Rabu, 31 Mei 2017

Menjadi Trainer

Menjadi Trainer

Saya menemukan tulisan ini dari media sosial, yang maaf tidak tertampil siapa penulisnya, namun siapapun anda penulisanya saya sangat terinspirasi dari tulisan anda dan ingin sampaaikan terima kasih banyak atas tulisan yang sangat bagus ini,,,,,,,
Dulu, saat Anda masih duduk di bangku sekolah dasar ditanya "Apa cita-citamu?" apa jawaban Anda? Apakah dokter, guru, pilot, polisi, tentara, insinyur atau presiden? Tak banyak anak pada jaman saya SD -di tahun 80an- yang mengenal profesi entrepreneur, CEO, bahkan trainer atau motivator. Saat SD dulu, saya selalu menjawab "Guru" adalah cita-cita saya. Meski seiring perkembangan pergaulan, ketika SMP hingga SMA di jaman saya ada tren saling bertukar buku diary, saya seringkali menuliskan "menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama" dalam kolom cita-cita. Ya, makin besar malah makin ga jelas gambaran tentang cita-cita hehe… Makanya, jalan hidup saya pun dipenuhi dengan profesi yang beragam. Mulai dari guru les, SPG furniture, sekretaris, PR, dosen, hingga akhirnya berakhr pada pilihan hati saya: Trainer. Mungkin Anda juga mengalami hal yang sama.
Layaknya seorang guru, trainer juga adalah penyampai ilmu. Dalam konteks agama islam, menyampaikan ilmu, menyeru kepada kebaikan disebut sebagai dakwah. Ada anjuran dalam Al-quran agar kita menjadi penyeru kebaikan, seperti dalam ayat berikut:
" Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS. Ali 'Imran: 104)
Ketika saya mengikuti tarjim, pada saat sampai ayat di atas, guru mengaji kami, Ustadz Masyhudi dari LPPIQ, menambahkan tips strategi berdakwa dalam Al-qur'an. Beliau menjelaskan bahwa hendaknya dalam berdakwah kita senantiasa bil hikmah wal mau'idhah hasanah wa syawir hum billati hiya ahsan. Berikut ini penjelasannya:
1.       Bil hikmah: dalam berdakwah hendaknya kita menyampaikan pesan dengan arif dan bijaksana. Berbeda orang yang kita layani, berbeda cara yang kita terapkan. Disini pentingnya seorang pembicara mengenali siapa audience-nya. Melihat kondisi audience, termasuk permasalahan yang sedang dihadapi. Sehingga saat menyampaikan pesan akan mengena karena bisa menjadi solusi persoalan kehidupan para audience-nya. Maka penting bagi para penyeru kebaikan untuk senantiasa update terhadap permasalahan masyarakat pada umumnya dan mengkondisikan sesuai dengan audience yang akan dilayani.
2.       Wal mau'idhah hasanah: dalam berdakwah hendaknya kita pandai memilih bahasa dantiming yang tepat. Ada orang yang suka to the point, ada orang yang lebih suka digiring dulu sebelum sampai pada pokok persoalan. Jika ilmu diibaratkan seperti air, maka tipe audience ada yang seperti mangkok, ada yang seperti botol. Tentu sangat mudah menuang air ke dalam mangkok karena ia begitu membuka diri. Inilah open-minded audience. Mudah mentransfer ilmu pada jenis audience ini. Sebaliknya, tidak mudah untuk menuang air ke dalam botol. Ia memiliki lubang yang sempit meski sebenarnya ruang kosongnya juga banyak. Maka, cara kita menyampaikan ilmu pada audience tipe botol, yang pikirannya sempit, sok tahu, dst., adalah harus dengan sabar dan membutuhkan alat.
3.       Wa syawir hum billati hiya ahsan: dalam berdakwah hendaknya kita melibatkan audience. Mengajak mereka bermusyawarah. Mencari persamaan dalam perbedaan. menghindari berbantah-bantahan. Disini diperlukan seorang penyampai pesan yang menguasai materi, memiliki fondasi keilmuan yang kuat sehingga mudah meyakinkan mereka yang masih ragu atau belum tahu. Seperti qoute yang mengatakan: With knowledge comes confidence. With confidence comes power to influence. Dengan ilmu kita jadi percaya diri. Kepercayaan diri akan menumbuhkan kekuatan untuk mempengaruhi.
Maka ketika kita ingin menjadi orang-orang yang beruntung seperti yang disampaikan dalam Surat Ali 'Imran ayat 104, mari kita menyeru pada kebaikan dengan melakukan tiga anjuran diatas. Good luck!

Jumat, 28 April 2017

Lean

LEAN OPERATION

Lean operation is a business performance improvement tool that focuses on enhancing quality, cost, delivery, and people.

It helps identify waste and makes continuous improvement possible by identifying and eliminating non-value-adding activities in design, production, supply chain, services and management.

Striving to improve competitiveness by providing customers faster and better products or services, which will accomplish more than worrying about the next global crisis, is the basic aim behind lean operation. The only game we need to be adept at today is the one that removes waste so the customer sees more value and we got efficiency.

In the world of lean practices, companies try to produce only what has been demanded by the customer, and only when the product is required. To optimize benefits of lean throughout the supply chain, it is essential to build a partnership with your suppliers. This partnership must work on the basic principle that you pull only what you consume, and nothing more.

Your suppliers restore what you have consumed. In this way, inventories are maintained at their smallest for both dealer and customer.

Achieving this level of trust with your supplier will require frequent communication and extensive sharing of information. Successful partnerships result from inviting each other to strategic planning sessions, attending each other's events and participating in other joint activities.

One good approach is to weave principles, objectives, tools, and methodology behind lean operation into the strategic and business plans of your organization, in order to make lean practices more suitable for your company.