Minggu, 30 Agustus 2015

EFFECT SOCIAL MEDIA

Sabtu kemarin saya menghabiskan waktu malam minggu dengan menonton event tahunan "Indonesian Jazz Festival", di tulisan ini saya tidak akan menjelaskan tentang liputan event itu, namun yang menarik untuk saya share disini adalah beberapa penampilnya yang menurut saya mempunyai penonton dan penggemar yang cukup banyak walaupun namanya sangat baru dan belum belum termasuk terkenal di tingkat nasional....namun ternyata sudah cukup terkenal di "dunianya"
Mengapa ini bisa terjadi..............apakah ini karena effect dari social media?..........
Saat ini social media menjadi media yang sangat popular dan powerfull untuk sebagai media marketing apapun produknya.
Dengan social media proses pemasaran dapat menyebar dengan sendirinya melalui jaringan para konsumennya dan secara cepat bisa menciptakan ledakan penjualan yang luar biasa tanpa harus susah payah pasang iklan dan promosi.
Tentunya hal ini kekuatannya didasarkan atas kontennya sehingga seseorang yang pertama mengetahuinya dapat tergelitik dan menyebarkannya ke teman-teman lainnya melalui imel atau media lainnya. Bisa saja dia mengirimkan ke satu orang teman atau ke beberapa orang dan selanjutnya tersebar lagi ke beberapa atau bahkan puluhan orang.  Apa lagi saat ini merebak pengguna twitter dimana ada feature yang "popular topics" yang akan memajang topic-topic yang lagi banyak dibicarakan para twitter. Proses penyebaran content inilah yang dikenal dengan sebutan "Viral Marketing"
Sudah banyak yang memanfaatkan dahsyatnya "effect social media" ini baik untuk promosi di tingkat korporasi maupun individual, sudahkan kita memanfaatkan hal ini yaitu dengan kekuatannya yang "berbeda" entah itu memang sangat kreatif atau bahkan aneh atau "bodoh" serta Innovative tentunya, akan bisa mencuatkan hasil yang luar biasa dan tidak terduga-duga.

Semoga bisa menginspirasi kita untuk berkreasi memanfatkan segala bentuk media bagi tujuan kita.

Posted Toto



Sabtu, 22 Agustus 2015

Kisah Inspiratif

Begini Cara Hidup Berkecukupan Di Jakarta Dengan Gaji Rp 850.000 per Bulan

Pada dasarnya manusia itu sok pintar, sok jago matematika, perhitungan dan perencanaan. Manusia selalu menggunakan logikanya yang sudah diasahnya sedari kecil hingga dihasilkan nilai-nilai yang membuatnya merasa benar. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Di alam semesta ini, kita terlalu kecil. Terlalu kecil dan bahkan tidak pantas untuk dibandingkan dengan Tuhan, Sang Maha Pencipta. Sekali lagi, logika manusia terlalu kecil dan terlalu sempit untuk memahami logika kehidupan yang ditetapkan oleh Sang Pencipta. Maka kadang ada istilah "tidak masuk akal", ya memang benar, memang akal kita ini terlalu sempit.

Banyak sekali hal-hal dalam hidup ini yang jelas-jelas logika kita tak akan bisa memahaminya.

Ada sebuah pengalaman yang saya buktikan sendiri bahwa memang saya ini sebagai manusia benar-benar terlalu bodoh. Saya rasakan sendiri bahwa manusia itu terlalu banyak kekurangan dan tak tau apa-apa mengenai ketetapan Allah.

Ini adalah kisah saya bertahan hidup di Ibukota Jakarta hanya dengan gaji Rp. 850.000 per bulan. Apakah masuk akal? Jelas tidak!.

Sebelumnya mari kita hitung bersama berapa besar pengeluaran rutin saya tiap bulannya.

- Kos 1 bulan = 500.000

- Makan 1 hari 20.000 (ini sudah menu superhemat) x 30 hari = 600.000

- Transport 2 kali busway 7000 x 30 hari = 210.000

- Total pengeluaran = 500.000 + 600.000 + 210.000 = 1.310.000

- Gaji anak magang = 850.000

Baru untuk 3 item saja duit saya harus sudah nombok 1.310.000 – 850.000 = 460.000

Apakah saya mandi tidak pakai sabun? Apakah saya tak menggosok gigi pakai odol? Apakah tidak minum air? Apakah tidak ingin hal-hal lain? Tentu saja ingin, karena saya pun masih pingin hidup. Jadi masih ada biaya lain yang dikeluarkan untuk keperluan itu.

Sebelum saya berangkat ke Jakarta, baru membayangkan angka-angka itu saja rasanya sudah stres. Mengapa tidak magang di rumah saja agar bisa lebih hemat? Bagaimana bisa beli barang yang dibutuhkan dengan dana sebesar itu di Jakarta?

Faktanya, hingga Agustus 2015 ini, saya sudah hampir 8 bulan hidup di Jakarta, dan saya lupa kapan terakhir kali minta uang orang tua, karena selama 8 bulan ini memang saya mencegah transfer dana dari orang tua.

Saya ingin membagikan pengalaman ini, dan mudah-mudahan bisa menginspirasi. Akar dari segala masalah ini adalah masalah mindset (cara berpikir).

Saya adalah seorang laki-laki. Beberapa tahun lagi tanggung jawab saya bukan lagi menghidupi diri saya sendiri, tapi juga menghidupi anak orang, alias menikah, punya istri, nanti lama-lama punya anak. Kalau saya tidak latihan dari sekarang untuk menyetop uluran dana dari orang tua, saya akan kaget ketika besok saya menikah dan berhadapan dengan kebutuhan yang berkali kali lipat besarnya. Ini mindset pertama kali saya tiba di Jakarta.

Bagaimana menjadi sosok kepala keluarga yang bisa diandalkan? Jawabannya adalah dia yang memahami agama, karena agama adalah segalanya. Dia adalah alasan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Saya ini anak nakal, bukan seperti ustad yang sholeh, rambut saya gondrong, bukan seperti PNS, tapi saya berusaha ingin menjadi pemimpin keluarga yang baik. Maka saya dengarkanlah ceramah-ceramah keagamaan. Berhubung dulu saya ini orangnya malas datang ke kajian, saya download saja video-video ceramah dan motivasi dari internet. Apalagi provider internet sedang berlomba-lomba pasang kuota besar-besaran. Kuota 5 Gb per bulan akan sangat mubazir bila tak dimanfaatkan secara optimal. Maka tiap malam saya download video tausiah itu, ditinggal tidur, lalu paginya saya putar. Itu rutinitas saya setiap hari di awal magang. Setiap pagi saya dengarkan pengajian sebelum berangkat ke kantor. Hingga sekarang mungkin koleksi video saya sudah lebih dari 10GB.

Ada satu poin yang saya garis bawahi pada beberapa video tersebut:

Ilmu investasi memang banyak diajarkan dimana-mana. Bagaimana kita mengelola modal dengan optimal, sehingga menghasilkan benefit. Tapi kebanyakan hanya mengajarkan bagaimana cara menanamkan modal, menilai risiko, dan saving untuk keperluan mendesak. Ada satu hal yang terlewatkan dari pelajaran ilmu investasi, padahal justru ini adalah yang paling utama. Ilmu itu adalah ilmu sedekah. Sedekah adalah langkah pertama yang harus dilakukan oleh investor sebelum berinvestasi. Investasi paling aman adalah sedekah, karena ini adalah janji Allah, bukan janji manusia. Setiap harta yang disedekahkan maka dia akan kembali lagi sebesar 10 kali lipatnya.

Apakah itu masuk akal. Jelas tidak...

Apabila menggunakan logika kita sebagai manusia, maka yang berlaku adalah 10 – 1 = 9

Tapi kalau logika Allah, 10 – 1 = 19. Kita punya uang sebesar 10 disedekahkan 1, maka 1 akan kembali menjadi 10. Maka total uang kita menjadi sebesar 19. Misalnya kita punya uang hanya Rp 10.000, tapi saya ingin membeli barang senilai Rp 50.000. Maka kita perlu sedekah Rp. 5. 000. Karena 5.000 x 10 = 50.000 plus sisa uang kita 5000 = 55.000.

Lalu lihat gaji saya yang cuma Rp 850.000. Kebutuhan hidup saya rata-rata harusnya Rp. 1.500.000. Berarti kira-kira masih kurang Rp. 800.000 an. Berarti uang yang harus saya sedekahkan adalah Rp 80.000.

Apakah berat dengan menyedekahkan nilai sebesar itu dengan gaji segitu? Pada awalnya memang jelas (amat) berat.

Dari sebuah video yang saya lihat, saya belajar bahwa kebiasaan itu ibarat seperti ketika kita menginjakkan kaki kita tanpa alas kaki di hamparan lapangan yang penuh dengan rumput. Pada awalnya, kaki kita akan merasa sakit karena rumputnya masih tajam-tajam. Tapi setelah beberapa kali kita melewati rumput itu, lama-lama rasa sakit itu berkurang karena rumput yang lama-lama semakin merunduk, dan akhirnya menjadi biasa saja untuk dilewati.

Dan yang paling perlu ditekankan adalah, jangan ada alasan apapun yang membuat kita mundur ketika akan melakukan suatu kebaikan. Ketika akan sedekah, kok mendadak logika kita bicara, "kok banyak banget, tapi kan lagi butuh beli itu, gimana nanti mau beli itu?" Nah! Kata-kata semacam itulah salah satu bentuk dari lemahnya manusia. Sekali lagi, selain untuk itung-itungan pelajaran, jangan percaya dengan logika.

Maka agar tidak semakin pusing dengan banyak lagi alasan yang datang untuk menunda, sedekah saya yang pertama adalah senilai Rp 100.000.

Pada saat itu mindset saya hanya kepingin ngetes. Apakah yang dikatakan pak ustad-ustad tadi tentang koar-koarnya khasiat sedekah itu benar atau tidak.

Saya sering kali mendengar di ceramah-ceramah, toko buku, atau kaligrafi-kaligrafi mengenai sebuah ayat yang bernama ayat seribu dinar. Rupanya, itu adalah ayat yang konon didapat dengan harga 1000 dinar (1 dinar=2juta). Jadi 1000 x 2juta = 2M.

Pada ayat tersebut dikatakan bahwa barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, dengan sungguh-sungguh menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah yang memang amat sangat berat, maka Allah akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Memang ayat seribu dinar ini kisahnya adalah kisah seorang pedagang yang sukses setelah membaca ayat ini tiap habis sholat. Jika memang benar begitu, mengapa tidak saya ikutan saja? Maka ini habit kedua yang saya lakukan sehabis sholat.

Ada dua sholat yang filosofinya sangat lucu, yaitu sholat tahajud dan duha. Sholat Tahajud itu singkatannya Tau Tau Harta Bersujud. Sedangkan sholat Duha itu singkatannya Doanya Pengusaha.

Dua sholat itu tidak boleh kelewatan jika ingin menjadi pengusaha sukses dan kaya raya. Hmm, tidak ada salahnya untuk dicoba. Alhamdulillah sejak pertama magang sampai sekarang duha saya masih rutin terjaga sebelum mulai kerja. Malah, kalau kita merasa kita akan disibukkan oleh setumpuk kerjaan di suatu hari, maka awali hari itu dengan berduha. Maka harimu itu akan terasa lapang dan tidak diburu-buru waktu. Itu saya rasakan sendiri dengan rutinitas kehidupan yang menantang di kota Jakarta yang super padat penduduk ini.

Ada dua pengusaha yang mindsetnya selalu saya coba untuk terapkan. Dia adalah Merry Riana dan Top Ittiphad.

Merry Riana adalah entrepreneur muda yang berhasil bebas finansial dalam usia 30 tahun. Dia berhasil meraih sejuta dolar dalam usia yang masih muda, padahal sebelumnya dia punya hutang sebesar ratusan juta Rupiah kepada pemerintah Singapura.

Sedangkan Top Ittiphad adalah pengusaha rumput laut asal Thailand yang produknya bisa kita temukan di Alfamart dan Indomaret dengan label Tao Kae Noi. Dia sukses bebas finansial di usia 26 tahun, padahal sebelumnya keluarganya mempunyai hutang Rp 4 Milyar.

Yang saya titik beratkan dari mereka bukan masalah duitnya atau hutangnya, melainkan masalah habitnya (kebiasaannya). Habit pengusaha adalah semakin pandai dia memanfaatkan waktu dan situasi, maka semakin suskes. Ada 2 alasan pengusaha untuk melakukan suatu hal, yaitu: apakah hal itu ada uangnya? Dan apakah hal itu ada pahalanya? Jika tidak dua-duanya, maka wajib tinggalkan!

Top Itthipad dan Merry Riana mengorbankan waktu bermain di usia muda mereka untuk bekerja. Di filmnya berjudul Top Secret, ada sebuah adegan dimana anak muda seusia Top bisa berjalan dengan santai sambil mendengarkan musik via iPod, sedangkan Top harus berjalan dengan berkeringat menggendong sekarung kacang untuk berdagang.

Jadi sebenarnya yang membuat seseorang kaya atau tidak itu bukan perkara kerjanya sebagai PNS atau pengusaha, tapi masalah habitnya.

Maka mengapa saya tidak meniru kebiasaan mereka?

Saya punya banyak koleksi film dari teman. Tapi sampai sekarang belum pernah saya tonton. Bahkan, film Dispecable Me pun saya belum nonton. Padahal saya punya dari yang pertama dan kedua. Karena pas saya mau nonton film itu, saya pasti kepikiran apakah ada dampak positifnya buat saya ke depan. 1. Apakah ada uangnya? 2. Apakah ada pahalanya? Memang lebay, tapi itu adalah salah satu faktor saya bisa bertahan dengan gaji Rp 850.000 per bulan.

Saya ganti kegiatan saya yang harusnya bisa dipakai untuk bersantai dengan hal yang lebih bermanfaat. Karena mindset saya sebenarnya kesenangan itu akan terakumulasi. Kalau kita bersenang-senang sekarang, suatu saat nanti kita pasti akan merasa bersusah susah. Tapi kalau bersusah-susah sekarang, maka kesenangannya nanti akan menumpuk dibelakang seperti menanam benih. Dan mumpung saya masih muda, saya ingin bekerja keras dulu di usia yang muda, seperti Top dan Merry tadi. Mereka berdua rata-rata menggunakan waktu sehari untuk bekerja selama 18 jam.

Kebetulan saya gemar di bidang komputer, musik dan sastra. Maka saya mulai pontensikan kegemaran saya itu untuk menghasilkan karya yang bermanfaat. Saya mencoba menulis buku, saya mengarang lagu dan mencoba mengaransemen, saya mengikuti lomba sastra online yang iming-iming hadiahnya besar, lomba bikin puisi, lomba nulis cerpen, saya juga kadang ikut lomba kompetisi blog. Itulah hal-hal yang saya lakukan untuk mengisi waktu luang saya.

Ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Allah amat membenci orang yang terlalu banyak makan dan terlalu banyak tidur. Dengan kata lain berarti yang sedikit makan dan sedikit tidur akan lebih disayang. Dan kalau disayang maka akan lebih sering diberi pertolongan.

Itulah alasan yang sangat kuat mengapa saya setiap makan hampir tidak pernah lauk daging. Lebih seringnya pakai lauk gorengan. Total pengeluaran makan saya sehari maksimal Rp 20.000, namun faktanya lebih sering dibawah besaran tersebut.

Makan tanpa lauk daging, apa bisa kenyang? Tidak. Tapi justru Nabi menyarankan kita agar berhenti makan sebelum kenyang.

Bukankah makan daging itu menyehatkan? Iya sehat sekarang, tapi terakumulasi sakitnya besok di usia tua. Lebih menyehatkan daun-daunan dan sayur. Ayah saya sejak kecil jarang sekali makan daging, tapi sampai usia sekarang beliau tidak pernah sakit yang aneh-aneh. Jika ada dua pilihan lauk: daging dan sayur, dan hanya boleh memilih salah satu, maka ayah akan memilih sayur. Saya lebih percaya kepada kata-kata ucapan ayah daripada kata-kata dari iklan daging olahan yang bentuknya lonjong.

Banyak yang bilang kalau nanti gajinya sudah banyak apa mungkin makan sesederhana itu? Saya jawab menjadi kaya itu tidak dilarang, tapi pola hidup harus tetap sederhana.

Nabi Muhammad SAW sungguh kaya raya bukan main. Bayangkan saja penduduk di zaman nabi itu hampir seluruhnya bahagia, padahal salah satu indikator kebahagiaan adalah tercukupinya kebutuhan. Dan untuk memenuhi kebutuhan itu perlu uang. Tidak salah lagi bahwa harta Rasulullah itulah yang selalu dibagi-bagikan kepada umatnya, hingga Beliau sendiri tidur hanya dengan pelepah kurma.

Ada sebuah kejadian di mana Nabi sedang menjadi imam sholat. Ketika selesai salam, Beliau terburu-buru pulang ke Rumah, tidak seperti biasanya Beliau yang selalu berdzikir panjang terlebih dahulu. Para sahabat pun keheranan.

Beberapa saat kemudian, Rasul kembali datang ke masjid untuk melanjutkan dzikirnya.

Setelah selesai, sahabatnya pun bertanya karena penasaran, apa yang menyebabkan Rasul tadi terburu-buru pulang?

Kemudian Rasul menjawab, bahwa setelah salam tadi mendadak beliau teringat bahwa di bawah alas tidurnya masih tersimpan beberapa dirham uang. Dan beliau sangat takut akan ditanya Allah mengapa Engkau masih menyimpan uang, sedangkan di luar sana banyak umatmu yang lapar. Maka beliau segera pulang mengambil uang tadi dan memberikan kepada badan, lalu kembali ke masjid lagi untuk menuntaskan dzikir. Di sini, sungguh tampak pola kesederhanaan hidup dan semangat berbagi dari beliau yang seharusnya ditiru oleh umat manusia yang kepingin sukses dunia akhirat.

Setiap hari Senin dan Kamis, saya juga upayakan untuk berpuasa. Selain untuk masalah hemat, juga karena masalah pahala.

Itulah beberapa kebiasaan yang bisa saya share.

Sedekah ditambah baca ayat seribu dinar ditambah rutin sholat duha ditambah puasa Senin Kamis ditambah memanfaatkan waktu adalah uang.

Sekali lagi, sedekah itu dapat memperkaya harta dan benar begitulah adanya! Setelah saya sedekahkan Rp. 100.000 tadi, ada-ada saja rezeki yang datang bergantian. Bergantian seperti  untuk datang kepada saya, itu yang saya rasakan. Mulai dari dapat makan siang gratis di kantor, bahkan teman saya sampai ada yang bilang kalau sekelompok kantor dengan saya itu enak, sering dapet makan siang gratis. Saya juga bingung. Ada juga honor yang mendadak cair, honor diklat, uang perjalanan dinas, dan lain-lain.

Memang, seperti terjemahan di ayat seribu dinar yang rutin saya baca, rezeki dan pertolongan Allah itu datangnya dari arah-arah yang tidak diduga. Termasuk ide-ide yang muncul di kepala ini pun juga merupakan bentuk dari rezeki Allah yang tak terduga.

Ada sebuah kisah Muhammad Al Fatih dalam menaklukan Konstantiopel, sebuah kota besar yang sudah selama 700 tahun lebih mencoba ditaklukkan oleh pasukan muslim tapi selalu berujung di kegagalan karena pertahanan kota yang luar biasa tangguhnya. Muhammad Al Fatih inilah satu-satunya yang akhirnya berhasil, bagaimana caranya? Percaya atau tidak, pasukan Al Fatih ini menumbangkan Konstantinopel dengan cara membawa kapal-kapal perang mereka berlayar bukan di atas ombak, tapi di atas gunung! Alias membawa kapal-kapalnya naik ke atas gunung untuk menyerbu Konstantinopel, karena hanya pada sisi gunung-gunung itulah pertahanan kota itu lemah.

Bukan masalah mendorong kapalnya yang luar biasa di sini. Tapi bagaimana Al Fatih bisa untuk mendapatkan ide untuk menyerang Konstantinopel dari arah gunung itulah sebuah rezeki dan rahmat dari Allah yang luar biasa. Kuncinya adalah, beliau selalu memperingatkan kepada pasukannya jangan sampai ada yang bermaksiat satu pun, karena maksiat dapat menghalangi rahmat Allah, dan beliau mengerahkan pasukannya untuk berpuasa.

Maka dari itu, kadang-kadang saya pun sering mendapat ide-ide yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Misalnya, membuka jasa edit foto. Itu ide yang menurut saya sangat konyol. Jadi ceritanya secara mendadak instansi saya meminta pas foto dengan memakai jas. Otomatis banyak anak yang tidak mungkin punya jas, apalagi untuk beli pasti mahal dengan gaji yang hanya segitu. Kalau mau foto studio pun mahal ongkosnya bisa sampai Rp 20.000. Ya saya buka jasa edit foto saja, saya pasangin jas di fotonya yang lama. Saya pasang tarif 5 ribu-10 ribu perfoto.

Memang harus ada pengorbanannya, sempat saking banyaknya orderan dan deadline saya tiap hari tidur jam 11 dan bangun jam 4. Dan selama bangun itu langsung ngedit foto lagi.

Lalu...........

Apakah dengan pola hidup seperti ini hidup saya jadi monoton dan tak ada kebahagiaan sama sekali seperti manusia normal? JELAS TIDAK.

Saya juga bermain dengan teman-teman untuk melepas penat. Saya juga masih bisa karaokean. Saya juga masih bisa makan di restoran bareng-bareng. Saya juga bisa beli pakaian dan seragam baru.

Setiap pulang kampung ke Semarang, saya justru tidak pernah naik kereta ekonomi, minimal bisnis, seringnya malah eksekutif yang harganya Rp. 300.000 karena lebih cepat sampai lebih banyak waktu bertemu orang tua. Karena orang tua adalah segalanya. Saya yakin, kesuksesan saat ini tidak akan diperoleh tanpa doa orang tua. Bisa pulang ke rumah untuk sekedar nyapu ngepel dan bantuin orang tua nyuci baju di rumah nilainya lebih baik daripada apa pun yang saya dapatkan saat ini di Jakarta.

Saya malah kadang nyuci pakaian di laundry karena terlalu capek, padahal itu bayar.

Saya masih bisa beli speaker Logitech yang high quality dan DVD writer merek Samsung yang harganya selangit. Padahal saya awalnya cuma melongo melihat harga kedua barang ini yang selangit dengan status gaji Rp 850.000. Beberapa minggu kemudian kok malah bisa beli dua-duanya.

Dan masih banyak lagi.

Namun kebahagiaan yang paling besar adalah, saya memperoleh itu semua tanpa meminta uang dari orang tua. Sungguh ini merupakan pengalaman dan perjuangan yang tak terlupakan.

Saya tidak bermaksud untuk pamer. Saya hanya ingin menunjukkan bukti kebesaran Allah bahwa apa saja yang dijanjikan oleh-Nya itu benar adanya, jika kita yakin dan menurut. Jika Allah meminta kita sedekah, bersedakahlah. Jika disuruh puasa, berpuasalah. Logikanya, Allah nyuruh gitu pasti Dia juga menjamin ada kesuksesan di balik itu. Kebanyakan kita itu tak menurut, makanya hidupnya terkesan berat.

Bukti bahwa sedekah dapat melipatgandakan harta itu benar sekali. Bahkan saya sendiri saat ini masih bingung kok bisa sebegitu hebatnya yang saya peroleh ini.

Sampai saat ini, saya selalu menyisihkan 10% dari Rp 850.000 untuk disedekahkan. Entah bagaimana pun caranya pokoknya minimal Rp. 80.000 harus habis disedekahkan dalam sebulan.

Pernah suatu ketika, sata benar-benar sedang ludes. Dompet saya isinya hanya 2 lembar yaitu selembar Rp 10.000, dan selembar Rp 5.000. Saat itu hari Jumat, pasti ada kotak infaq yang dikelilingkan saat sholat Jumat. Berhubung sudah menjadi habit, rasanya tidak enak kalau tidak memasukkan uang ke dalamnya. Kalau saya masukkan Rp 10.000, berarti saya hanya punya Rp 5.000 saja. Naik busway Rp 3.500, hanya sisa Rp 1.500 di dalam dompet, apa bisa pergi hanya bawa uang segitu? Tapi kalau saya beri Rp 5.000 berarti saya meremehkan sedekah, sebab yang dipilih kok malah justru uang yang nilainya rendah. Daripada pusing, langsung saja saya masukan Rp 10.000.

Setelah sholat Jumat, saya dipanggil kepala seksi kantor, diminta untuk ke Kantor Pusat buat ngurus proyek pembuatan website kantor. Lalu dibuatkan Surat Perjalanan Dinas (SPD). Akhirnya saya ke Kantor Pusat sekalian pulang naik taksi yang dibayarin. Habis dari kantor pusat, saya diajak mampir ke restoran, ditraktir! Berapa uang yang habis? Lebih dari Rp. 10.000! Plus besoknya dapat uang perjalanan dinas Rp. 100.000.

Keajaiban sedekah lainnya, saya mendadak dapat telpon dari rumah, rupanya cerpen saya yang saya ikutkan di kompetisi online masuk di juara favorit. Dapat sertifikat dan hadiah yang lumayan nilainya.

Tidak berhenti sampai di sini, sekarang pun saya sedang diminta membuat website untuk KPPN Jakarta 7. Mangapa saya yang diminta? Padahal yang lain juga bisa. Mungkin jawabannya ya karena sedekah dan amalan-amalan tadi. Padahal kata kepala kantornya, jangan kuatir nanti dibayar kok. Benar kan, datang rezeki lagi dari arah yang tidak disangka-sangka.

Maka apakah kita ini sudah pandai matematika? Apakah nilai matematika kita di ujian nasional dulu nilainya 100? Ternyata Allah jauh lebih pintar matematika!

Jangan percaya dengan mata kita, sebab mata hanya bisa melihat apa yang bisa dilihat. Jangan percaya logika kita. Tapi percayalah kepada logika Allah. Bagaimana caranya? Allah memberi sebuah tools mahadahsyat untuk memahami logika Allah. Alat itu adalah hati. Gunakan hati sebaik-baiknya, jangan dikotori, jangan dinodai, maka dia akan lebih mudah untuk digunakan.
(seperti yang diceritakan Dinar R.)


Posted by nahya tinata
source: http://www.memobee.com/kisah-nyata-inpiratif-begini-cara-hidup-berkecukupan-di-jakarta-dengan-gaji-rp-850-000-per-bulan-4651-myreview.html

Kamis, 20 Agustus 2015

Menjalani proses menjadi Wirausaha

Menjalani Proses menjadi Wirausaha

 

Setiap kali kita berbicara tentang mau “usaha” yang sering kita dengar adalah persoalan uang, cukupkah modal saya, persaingan bisnis, bisnis tidak berkembang, siapa yang akan mengelola, bisakah saya memulainya, kalau rugi antisipasinya seperti apa dll.

Sharing, komentar atau kekawatiran seperti diatas adalah sesuatu yang wajar dan normal karena kita memulai sesuatu hal baru yang belum pernah kita lakukan, seperti peribahasa klasik mengawali sesuatu adalah tidak mudah…namun mengakhiri sesuatu adalah sangat mudah.

Dengan pemikiran yang tenang dan hati yang iklas untuk mengikuti pembelajaran baru dalam dunia Usaha secara berkesinambungan dan kegigihan tentunya hal hal diatas bukan menjadi suatu permasalahan. Didalam semua aspek kita perlu melalui yang namanya proses dan proses ini adalah waktu yang harus dijalani bisa cepat, bisa lama dan tidak ada jalan pintas…..karena tangga demi tangga kita harus lalui dan kalau langsung melompat tentunya akan menciptakaan persoalan baru bagi kita.

Ketahanan kita akan diuji didalam sebuah proses yang harus dijalani….takut gagal, gelisah, kuatir didalam ketidakpastian perasaan yang tidak nyaman.

Starting point bagi kalangan berpenghasilan tetap akan lebih berat dibanding yang memang memulai dari nol untuk itu pindah kuadran mutlak perlu keyakinan sukses yang kuat, siap merubah pola pikir dan bahkan life style untuk dapat mengikuti suatu proses yang berkesinambungan dengan konsisten dan kegigihan yang tinggi dimana tentunya akan menemukan sesuatu tantangan dan kepuasan tersendiri bilamana kita dapat menjalaninya.

Setiap kali kita lalui suatu tantangan maka semakin tambahlah kemampuan, ketrampilan kita dan juga kecerdasan emosi kita.

Didalam beberapa artikel disebutkan bahwa kekuatan kita didalam “berusaha” merupakan kekuatan dari ketrampilan berpikir kita dan kecerdasan emosi kita

 

Berikut ini tips yang diberikan oleh rekan B. Triwoko didalam artikelnya untuk menguatkan proses yang harus kita lalui

1. Mengisi setiap sisi kehidupan dengan energi positif
2. Selalu bersyukur dengan semua yang telah diterima dan dialami
3. Melakukan setiap karya dan perbuatan dengan hati yang ikhlas
4. Memberikan asset terbaik (waktu, hati, ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, dsb) yang dimiliki kepada orang lain yang memerlukan
5. Membuka hati dan pikiran untuk menerima segala hal baru dalam kehidupan
6. Dapat memahami dan menghormati setiap perbedaan yang terjadi
7. Selalu menjaga integritas dan komitmen

Posted by Toto

 

 

Kapan Sebaiknya Pindah Kuadran ???

 

Kapan Sebaiknya Pindah Kuadran?

Pindah kuadran adalah sebuah istilah yang menjadi sangat populer lantaran buku best seller bertajuk Rich Dad, Poor Dad karangan Robert T. Kiyosaki. Isitilah ini merujuk pada perpindahan dari kuadran seorang pekerja (employee) bergerak menuju kuadran business owner atau entrepreneuer. Dari seseorang yang tiap bulan menerima gaji secara konstan, bergerak menjadi manusia mandiri yang create their own wealth.

Pilihan menjadi entrepreneur kini tampaknya memang tengah digandrungi banyak orang; dan ini tentu saja merupakan sebuah hal yang layak disukuri. Sebab seperti yang pernah saya tulis disini, negeri tercinta ini masih sangat membutuhkan barisan manusia mandiri yang berani mengambil resiko menjadi wirausahawan/wati. Sebuah keberanian untuk meretas jalan panjang demi meraih apa yang acap disebut sebagai financial freedom.

Pertanyaannya adalah : jika kita sudah terlanjur menjadi pekerja kantoran (employee) dan mungkin kini tengah menikmati sebuah comfort zone, apa yang mesti harus dilakukan untuk pindah kuadran? Dan kapan sebaiknya pindah kuadran? Tak ada jawaban baku disini, sebab seperti kata pepatah “ada banyak jalan menuju Roma”. Demikian pula, mungkin ada seribu jalan untuk melakoni proses perpindahan kuadran. Namun disini, saya hendak mendedahkan sejumlah catatan yang mungkin layak digenggam.

Catatan yang pertama adalah ini: kalaulah kelak Anda ingin menyodorkan resignation letter dan bertekad bulat full time menjalani wirausaha, pastikan bahwa probalilitas keberhasilan bisnis/usaha yang akan Anda tekuni itu setidaknya berada pada kisaran angka 70 %. Aturan inilah yang dulu saya terapkan ketika pada tahun 2004, saya memutuskan pindah kuadran, dan secara full time menekuni usaha secara mandiri. Saya akhirnya berani mengambil keputusan itu, setelah berdasar analisa yang saya lakukan, saya berkeyakinan bahwa usaha yang akan saya tekuni ini memiliki probabilitas 70 % akan berhasil (dan sejauh ini, alhamdulilah, estimasi itu tidak meleset).

Pertanyaan berikutnya : dari mana angka 70 % diperoleh? Ya tentu saja berdasar analisa atas potensi pasar. Ini bisa dilakukan dengan cara observasi, survei secara sederhana, ataupun berdasar kisah kegagalan/keberhasilan serta pengalaman dari para pelaku bisnis di bidang yang akan Anda tekuni. Angka itu juga mesti memperhatikan kapabilitas internal Anda dalam menjalani usaha yang akan ditekuni. Namun pada akhirnya, semua juga terpulang pada your personal judgement. Kalau Anda bermental penakut, meskipun secara rasional hasil analisa menunjukkan bahwa 70 % usaha ini akan berhasil, namun mungkin hati kecil Anda akan selalu bilang “rasanya peluang bisnis ini untuk berhasil kok cuman 20 % saja….”. Wah, kalo begini mindset sampeyan, ya ndak jalan-jalan. Kalu begini, berarti mindset Anda yang perlu direparasi.

Catatan yang kedua adalah ini : kalaulah Anda belum berani full time pindah kuadran, maka tentu saja Anda bisa menjalani apa yang saya sebut sebagai “double kuadran”. Bekerja di kantor tetap dilakoni, namun perlahan-lahan mulai merintis bisnis secara mandiri. Kelak kalau roda bisnis itu ternyata bisa memberikan income yang memadai, baru kemudian mengajukan pengunduran diri dari kantor. Model semacam ini menjanjikan rute yang lebih aman, dan sudah banyak kisah keberhasilan yang tersaji melalui rute double kuadran ini. Melalui smart management atau juga melalui pengaturan waktu yang tepat, pilihan model ini rasanya sangat layak untuk dicoba.

Pertanyaan terakhir : lalu apa dong kira-kira bisnis yang harus saya lakukan? Nah ini pertanyaan yang mudah dijawab. Silakan saja datang ke toko buku Gramedia (yang ada di Matraman, Jakarta merupakan the best choice) atau toko buku terdekat di kota Anda. Disitu Anda akan segera melihat puluhan atau mungkin ratusan buku tentang beragam peluang bisnis : mulai dari kiat bisnis waralaba, peluang bisnis baju koko, bisnis rumah makan mak nyus, bisnis jualan obat, bisnis secara online, bisnis jualan air isi ulang, bisnis properti…….semua ada, tinggal dipilih-pilih mana yang paling cocok menurut Anda.

By Yodhia Antariksa September 8th, 2008

 

Kamis, 06 Agustus 2015

RENUNGAN

RENUNGAN

Kehidupan adalah merupakan sebuah dinamika pilihan, ada kalanya kita berada di kebahagiaan dan kesenangan ada pula saat kita dibawah dengan kesulitan dan kesedihannnya. Terkadang jalan yang kita pilih tidak sesuai dengan harapan atau kalaupun sesuai harapan maka hal ini tidak berjalan lama. Namun terkadang juga kita dihadapkan pada sesuatu yang kita tidak bisa pilih dan dengan rasa “terpaksa” kita lalui jalan kehidupan ini dengan apa adanya. Pernahkan anda rasakan atau renungkan hal semacam ini……………..

Sudah banyak waktu yang kita lalui dari kecil saat belum sekola, kemudian masa sekolah, kulian lalu kerja dan mungkin banyak juga yang saat ini sudah purna kerja menikmati hari tua……………kita lalui masa masa kebahagian,bersama keluarga, teman dan tak sedikit juga kita lalui masa masa perjuangan dan tantangan kita untuk meraih cita cita kita demi kebahagian di dunia dan di alam kekal kelak.

Berapa jam setiap hari kita bekerja …..8 jam………….12 jam………...atau bahkan sampai 16 atau 18 jam atau mungkin sudah meluangkan banyak waktu di kantor atau pabrik atau tempat lain ……..dan pernahkan kita berpikir bahwa yang kita lakukan ini sudah memberikan added value kepada kita sendiri dan juga yang lain …………….

Tak jarang yang kita lakukan hanyalah kerja dan kerja saja tanpa mendapatkan manfaat darinya, tentu waktu kerja ini menjadi sangat melelahkan dan banyak menyita sebagian besar waktu hidup kita yang hanya 24 jam ini. Dan menjadi lebih tragis lagi kalau dalam durasi tersebut kita tidak mendapatkan kenikmatan dan kepuasan kerja yang optimal apalagi lebih parah lagi tidak hasil nyata yang diperoleh. Sehingga pada akhirnya kita hanya diperbudak oleh pekerjaan dan pekerjaan saja di era dinamika dunia kerja saat ini dan mungkin menjadi ironis lagi waktu kita untuk menengadahkan tangan kita untuk bersujud, bersyukur dan beribadah ke hadapanNYA kita hanya mendapatkan porsi waktu yang sedikit atau bahkan tidak ada.

Waktu menjadi factor Utama kunci kesuksesan kita, hanya kita yang bisa mengelola waktu yang baik lah yang akan menjadi pemenang, dan kemenangan ini tidak cukup berarti tanpa adanya “kenikmatan kerja” yang sesungguhnya dimana dari berbagai sumber dapat disarikan bahwa ada beberapa faktor utama menjadi kontribusinya, yaitu

1.      Tantangan

Apa yang akan terjadi bilamana kita setiap hari hanya dipaksa untuk mengerjakan tugas yang tidak memberikan kita kesempatan untuk berpikir dan juga membuat adrenalin kita selalu terpacu untuk memberikan ide-ide yang menantang. Kita akan “suntuk” dan bisa jadi akan terperangkap didalam kejenuhan. Pada dasarnya otak kita dan semangat kita akan selalu hidup terus secara produktif bilamana kita selalu didorong untuk senantiasa memberikan yang terbaik, dan disinilah kita akan merasa puas jika mampu mengerjakannya dan menuntaskannya menjadi hasil yang maksimal.

2.      Penghargaan

Pasti semua setuju dan tidak perlu ditanyakan lagi, dengan adanya reward yang memenuhi keinginan kita, maka tentunya akan memberikan kontribusi kepada tingkat kepuasan kerja kita.

3.      Iklim Kerja yang mendukung

Kita tentu akan merasa nyaman, senang bilamana sekeliling kita, teman sekantor kita baik atasan, bawahan ataupun rekan kerja kita merupakan orang-orang yang kooperatif, saling membantu, mudah diajak kerja sama, dapat saling berbagi ilmu tanpa adanya tekanan tekanan tertentu dan yang paling penting semua elemen di tempat kerja senantiasa menebarkan rasa kekeluargaan, kebersamaan demi tercapai tujuan bisnis yang diinginkan.

4.      Pimpinan yang supportive

Apa yang akan terjadi bilamana atasan anda sangat inspiratif, memliliki visi yang jelas, memberikan coaching dengan rutin dan konsisten, dan memberikan apreasi setiap mencapai tahapan-tahapan keberhasilan yang dilaluinya. Pasti anda akan senang dan nyaman didalam bekerja karena kita benar-benar merasa didalam suatu keluarga besar yang dengan bimbingannya untuk tujuak pengembangan SDM dan rasanya tidak ada alasan lagi untuk tidak “kerasan” atau jenuh karena apa yang dilakukan merupakan kesenangan yang nyata.

5.      Religion

Keyakinan kita atas apa apa yang kita kerjakan saat ini tak lepas dari langkah ibadah kita. Proses keiklasan, kesabaran, ibadah dan ke syukuran kita hendaklah hanya untuk mendapatkan ridhoNYA. Untuk itu dalam setiap waktu setiap detik membangun energy positif senantiasa melekat didalam segala aktifitas kita.

 

Posted by Toto

Lebaran 2015