Rabu, 31 Mei 2017

Menjadi Trainer

Menjadi Trainer

Saya menemukan tulisan ini dari media sosial, yang maaf tidak tertampil siapa penulisnya, namun siapapun anda penulisanya saya sangat terinspirasi dari tulisan anda dan ingin sampaaikan terima kasih banyak atas tulisan yang sangat bagus ini,,,,,,,
Dulu, saat Anda masih duduk di bangku sekolah dasar ditanya "Apa cita-citamu?" apa jawaban Anda? Apakah dokter, guru, pilot, polisi, tentara, insinyur atau presiden? Tak banyak anak pada jaman saya SD -di tahun 80an- yang mengenal profesi entrepreneur, CEO, bahkan trainer atau motivator. Saat SD dulu, saya selalu menjawab "Guru" adalah cita-cita saya. Meski seiring perkembangan pergaulan, ketika SMP hingga SMA di jaman saya ada tren saling bertukar buku diary, saya seringkali menuliskan "menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama" dalam kolom cita-cita. Ya, makin besar malah makin ga jelas gambaran tentang cita-cita hehe… Makanya, jalan hidup saya pun dipenuhi dengan profesi yang beragam. Mulai dari guru les, SPG furniture, sekretaris, PR, dosen, hingga akhirnya berakhr pada pilihan hati saya: Trainer. Mungkin Anda juga mengalami hal yang sama.
Layaknya seorang guru, trainer juga adalah penyampai ilmu. Dalam konteks agama islam, menyampaikan ilmu, menyeru kepada kebaikan disebut sebagai dakwah. Ada anjuran dalam Al-quran agar kita menjadi penyeru kebaikan, seperti dalam ayat berikut:
" Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS. Ali 'Imran: 104)
Ketika saya mengikuti tarjim, pada saat sampai ayat di atas, guru mengaji kami, Ustadz Masyhudi dari LPPIQ, menambahkan tips strategi berdakwa dalam Al-qur'an. Beliau menjelaskan bahwa hendaknya dalam berdakwah kita senantiasa bil hikmah wal mau'idhah hasanah wa syawir hum billati hiya ahsan. Berikut ini penjelasannya:
1.       Bil hikmah: dalam berdakwah hendaknya kita menyampaikan pesan dengan arif dan bijaksana. Berbeda orang yang kita layani, berbeda cara yang kita terapkan. Disini pentingnya seorang pembicara mengenali siapa audience-nya. Melihat kondisi audience, termasuk permasalahan yang sedang dihadapi. Sehingga saat menyampaikan pesan akan mengena karena bisa menjadi solusi persoalan kehidupan para audience-nya. Maka penting bagi para penyeru kebaikan untuk senantiasa update terhadap permasalahan masyarakat pada umumnya dan mengkondisikan sesuai dengan audience yang akan dilayani.
2.       Wal mau'idhah hasanah: dalam berdakwah hendaknya kita pandai memilih bahasa dantiming yang tepat. Ada orang yang suka to the point, ada orang yang lebih suka digiring dulu sebelum sampai pada pokok persoalan. Jika ilmu diibaratkan seperti air, maka tipe audience ada yang seperti mangkok, ada yang seperti botol. Tentu sangat mudah menuang air ke dalam mangkok karena ia begitu membuka diri. Inilah open-minded audience. Mudah mentransfer ilmu pada jenis audience ini. Sebaliknya, tidak mudah untuk menuang air ke dalam botol. Ia memiliki lubang yang sempit meski sebenarnya ruang kosongnya juga banyak. Maka, cara kita menyampaikan ilmu pada audience tipe botol, yang pikirannya sempit, sok tahu, dst., adalah harus dengan sabar dan membutuhkan alat.
3.       Wa syawir hum billati hiya ahsan: dalam berdakwah hendaknya kita melibatkan audience. Mengajak mereka bermusyawarah. Mencari persamaan dalam perbedaan. menghindari berbantah-bantahan. Disini diperlukan seorang penyampai pesan yang menguasai materi, memiliki fondasi keilmuan yang kuat sehingga mudah meyakinkan mereka yang masih ragu atau belum tahu. Seperti qoute yang mengatakan: With knowledge comes confidence. With confidence comes power to influence. Dengan ilmu kita jadi percaya diri. Kepercayaan diri akan menumbuhkan kekuatan untuk mempengaruhi.
Maka ketika kita ingin menjadi orang-orang yang beruntung seperti yang disampaikan dalam Surat Ali 'Imran ayat 104, mari kita menyeru pada kebaikan dengan melakukan tiga anjuran diatas. Good luck!

Jumat, 28 April 2017

Lean

LEAN OPERATION

Lean operation is a business performance improvement tool that focuses on enhancing quality, cost, delivery, and people.

It helps identify waste and makes continuous improvement possible by identifying and eliminating non-value-adding activities in design, production, supply chain, services and management.

Striving to improve competitiveness by providing customers faster and better products or services, which will accomplish more than worrying about the next global crisis, is the basic aim behind lean operation. The only game we need to be adept at today is the one that removes waste so the customer sees more value and we got efficiency.

In the world of lean practices, companies try to produce only what has been demanded by the customer, and only when the product is required. To optimize benefits of lean throughout the supply chain, it is essential to build a partnership with your suppliers. This partnership must work on the basic principle that you pull only what you consume, and nothing more.

Your suppliers restore what you have consumed. In this way, inventories are maintained at their smallest for both dealer and customer.

Achieving this level of trust with your supplier will require frequent communication and extensive sharing of information. Successful partnerships result from inviting each other to strategic planning sessions, attending each other's events and participating in other joint activities.

One good approach is to weave principles, objectives, tools, and methodology behind lean operation into the strategic and business plans of your organization, in order to make lean practices more suitable for your company.

 

Sabtu, 15 Oktober 2016

Kisah Inspiratif

Begini Cara Hidup Berkecukupan Di Jakarta Dengan Gaji Rp 850.000 per Bulan

Pada dasarnya manusia itu sok pintar, sok jago matematika, perhitungan dan perencanaan. Manusia selalu menggunakan logikanya yang sudah diasahnya sedari kecil hingga dihasilkan nilai-nilai yang membuatnya merasa benar. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Di alam semesta ini, kita terlalu kecil. Terlalu kecil dan bahkan tidak pantas untuk dibandingkan dengan Tuhan, Sang Maha Pencipta. Sekali lagi, logika manusia terlalu kecil dan terlalu sempit untuk memahami logika kehidupan yang ditetapkan oleh Sang Pencipta. Maka kadang ada istilah "tidak masuk akal", ya memang benar, memang akal kita ini terlalu sempit.

Banyak sekali hal-hal dalam hidup ini yang jelas-jelas logika kita tak akan bisa memahaminya.

Ada sebuah pengalaman yang saya buktikan sendiri bahwa memang saya ini sebagai manusia benar-benar terlalu bodoh. Saya rasakan sendiri bahwa manusia itu terlalu banyak kekurangan dan tak tau apa-apa mengenai ketetapan Allah.

Ini adalah kisah saya bertahan hidup di Ibukota Jakarta hanya dengan gaji Rp. 850.000 per bulan. Apakah masuk akal? Jelas tidak!.

Sebelumnya mari kita hitung bersama berapa besar pengeluaran rutin saya tiap bulannya.

- Kos 1 bulan = 500.000

- Makan 1 hari 20.000 (ini sudah menu superhemat) x 30 hari = 600.000

- Transport 2 kali busway 7000 x 30 hari = 210.000

- Total pengeluaran = 500.000 + 600.000 + 210.000 = 1.310.000

- Gaji anak magang = 850.000

Baru untuk 3 item saja duit saya harus sudah nombok 1.310.000 – 850.000 = 460.000

Apakah saya mandi tidak pakai sabun? Apakah saya tak menggosok gigi pakai odol? Apakah tidak minum air? Apakah tidak ingin hal-hal lain? Tentu saja ingin, karena saya pun masih pingin hidup. Jadi masih ada biaya lain yang dikeluarkan untuk keperluan itu.

Sebelum saya berangkat ke Jakarta, baru membayangkan angka-angka itu saja rasanya sudah stres. Mengapa tidak magang di rumah saja agar bisa lebih hemat? Bagaimana bisa beli barang yang dibutuhkan dengan dana sebesar itu di Jakarta?

Faktanya, hingga Agustus 2015 ini, saya sudah hampir 8 bulan hidup di Jakarta, dan saya lupa kapan terakhir kali minta uang orang tua, karena selama 8 bulan ini memang saya mencegah transfer dana dari orang tua.

Saya ingin membagikan pengalaman ini, dan mudah-mudahan bisa menginspirasi. Akar dari segala masalah ini adalah masalah mindset (cara berpikir).

Saya adalah seorang laki-laki. Beberapa tahun lagi tanggung jawab saya bukan lagi menghidupi diri saya sendiri, tapi juga menghidupi anak orang, alias menikah, punya istri, nanti lama-lama punya anak. Kalau saya tidak latihan dari sekarang untuk menyetop uluran dana dari orang tua, saya akan kaget ketika besok saya menikah dan berhadapan dengan kebutuhan yang berkali kali lipat besarnya. Ini mindset pertama kali saya tiba di Jakarta.

Bagaimana menjadi sosok kepala keluarga yang bisa diandalkan? Jawabannya adalah dia yang memahami agama, karena agama adalah segalanya. Dia adalah alasan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Saya ini anak nakal, bukan seperti ustad yang sholeh, rambut saya gondrong, bukan seperti PNS, tapi saya berusaha ingin menjadi pemimpin keluarga yang baik. Maka saya dengarkanlah ceramah-ceramah keagamaan. Berhubung dulu saya ini orangnya malas datang ke kajian, saya download saja video-video ceramah dan motivasi dari internet. Apalagi provider internet sedang berlomba-lomba pasang kuota besar-besaran. Kuota 5 Gb per bulan akan sangat mubazir bila tak dimanfaatkan secara optimal. Maka tiap malam saya download video tausiah itu, ditinggal tidur, lalu paginya saya putar. Itu rutinitas saya setiap hari di awal magang. Setiap pagi saya dengarkan pengajian sebelum berangkat ke kantor. Hingga sekarang mungkin koleksi video saya sudah lebih dari 10GB.

Ada satu poin yang saya garis bawahi pada beberapa video tersebut:

Ilmu investasi memang banyak diajarkan dimana-mana. Bagaimana kita mengelola modal dengan optimal, sehingga menghasilkan benefit. Tapi kebanyakan hanya mengajarkan bagaimana cara menanamkan modal, menilai risiko, dan saving untuk keperluan mendesak. Ada satu hal yang terlewatkan dari pelajaran ilmu investasi, padahal justru ini adalah yang paling utama. Ilmu itu adalah ilmu sedekah. Sedekah adalah langkah pertama yang harus dilakukan oleh investor sebelum berinvestasi. Investasi paling aman adalah sedekah, karena ini adalah janji Allah, bukan janji manusia. Setiap harta yang disedekahkan maka dia akan kembali lagi sebesar 10 kali lipatnya.

Apakah itu masuk akal. Jelas tidak...

Apabila menggunakan logika kita sebagai manusia, maka yang berlaku adalah 10 – 1 = 9

Tapi kalau logika Allah, 10 – 1 = 19. Kita punya uang sebesar 10 disedekahkan 1, maka 1 akan kembali menjadi 10. Maka total uang kita menjadi sebesar 19. Misalnya kita punya uang hanya Rp 10.000, tapi saya ingin membeli barang senilai Rp 50.000. Maka kita perlu sedekah Rp. 5. 000. Karena 5.000 x 10 = 50.000 plus sisa uang kita 5000 = 55.000.

Lalu lihat gaji saya yang cuma Rp 850.000. Kebutuhan hidup saya rata-rata harusnya Rp. 1.500.000. Berarti kira-kira masih kurang Rp. 800.000 an. Berarti uang yang harus saya sedekahkan adalah Rp 80.000.

Apakah berat dengan menyedekahkan nilai sebesar itu dengan gaji segitu? Pada awalnya memang jelas (amat) berat.

Dari sebuah video yang saya lihat, saya belajar bahwa kebiasaan itu ibarat seperti ketika kita menginjakkan kaki kita tanpa alas kaki di hamparan lapangan yang penuh dengan rumput. Pada awalnya, kaki kita akan merasa sakit karena rumputnya masih tajam-tajam. Tapi setelah beberapa kali kita melewati rumput itu, lama-lama rasa sakit itu berkurang karena rumput yang lama-lama semakin merunduk, dan akhirnya menjadi biasa saja untuk dilewati.

Dan yang paling perlu ditekankan adalah, jangan ada alasan apapun yang membuat kita mundur ketika akan melakukan suatu kebaikan. Ketika akan sedekah, kok mendadak logika kita bicara, "kok banyak banget, tapi kan lagi butuh beli itu, gimana nanti mau beli itu?" Nah! Kata-kata semacam itulah salah satu bentuk dari lemahnya manusia. Sekali lagi, selain untuk itung-itungan pelajaran, jangan percaya dengan logika.

Maka agar tidak semakin pusing dengan banyak lagi alasan yang datang untuk menunda, sedekah saya yang pertama adalah senilai Rp 100.000.

Pada saat itu mindset saya hanya kepingin ngetes. Apakah yang dikatakan pak ustad-ustad tadi tentang koar-koarnya khasiat sedekah itu benar atau tidak.

Saya sering kali mendengar di ceramah-ceramah, toko buku, atau kaligrafi-kaligrafi mengenai sebuah ayat yang bernama ayat seribu dinar. Rupanya, itu adalah ayat yang konon didapat dengan harga 1000 dinar (1 dinar=2juta). Jadi 1000 x 2juta = 2M.

Pada ayat tersebut dikatakan bahwa barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, dengan sungguh-sungguh menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah yang memang amat sangat berat, maka Allah akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Memang ayat seribu dinar ini kisahnya adalah kisah seorang pedagang yang sukses setelah membaca ayat ini tiap habis sholat. Jika memang benar begitu, mengapa tidak saya ikutan saja? Maka ini habit kedua yang saya lakukan sehabis sholat.

Ada dua sholat yang filosofinya sangat lucu, yaitu sholat tahajud dan duha. Sholat Tahajud itu singkatannya Tau Tau Harta Bersujud. Sedangkan sholat Duha itu singkatannya Doanya Pengusaha.

Dua sholat itu tidak boleh kelewatan jika ingin menjadi pengusaha sukses dan kaya raya. Hmm, tidak ada salahnya untuk dicoba. Alhamdulillah sejak pertama magang sampai sekarang duha saya masih rutin terjaga sebelum mulai kerja. Malah, kalau kita merasa kita akan disibukkan oleh setumpuk kerjaan di suatu hari, maka awali hari itu dengan berduha. Maka harimu itu akan terasa lapang dan tidak diburu-buru waktu. Itu saya rasakan sendiri dengan rutinitas kehidupan yang menantang di kota Jakarta yang super padat penduduk ini.

Ada dua pengusaha yang mindsetnya selalu saya coba untuk terapkan. Dia adalah Merry Riana dan Top Ittiphad.

Merry Riana adalah entrepreneur muda yang berhasil bebas finansial dalam usia 30 tahun. Dia berhasil meraih sejuta dolar dalam usia yang masih muda, padahal sebelumnya dia punya hutang sebesar ratusan juta Rupiah kepada pemerintah Singapura.

Sedangkan Top Ittiphad adalah pengusaha rumput laut asal Thailand yang produknya bisa kita temukan di Alfamart dan Indomaret dengan label Tao Kae Noi. Dia sukses bebas finansial di usia 26 tahun, padahal sebelumnya keluarganya mempunyai hutang Rp 4 Milyar.

Yang saya titik beratkan dari mereka bukan masalah duitnya atau hutangnya, melainkan masalah habitnya (kebiasaannya). Habit pengusaha adalah semakin pandai dia memanfaatkan waktu dan situasi, maka semakin suskes. Ada 2 alasan pengusaha untuk melakukan suatu hal, yaitu: apakah hal itu ada uangnya? Dan apakah hal itu ada pahalanya? Jika tidak dua-duanya, maka wajib tinggalkan!

Top Itthipad dan Merry Riana mengorbankan waktu bermain di usia muda mereka untuk bekerja. Di filmnya berjudul Top Secret, ada sebuah adegan dimana anak muda seusia Top bisa berjalan dengan santai sambil mendengarkan musik via iPod, sedangkan Top harus berjalan dengan berkeringat menggendong sekarung kacang untuk berdagang.

Jadi sebenarnya yang membuat seseorang kaya atau tidak itu bukan perkara kerjanya sebagai PNS atau pengusaha, tapi masalah habitnya.

Maka mengapa saya tidak meniru kebiasaan mereka?

Saya punya banyak koleksi film dari teman. Tapi sampai sekarang belum pernah saya tonton. Bahkan, film Dispecable Me pun saya belum nonton. Padahal saya punya dari yang pertama dan kedua. Karena pas saya mau nonton film itu, saya pasti kepikiran apakah ada dampak positifnya buat saya ke depan. 1. Apakah ada uangnya? 2. Apakah ada pahalanya? Memang lebay, tapi itu adalah salah satu faktor saya bisa bertahan dengan gaji Rp 850.000 per bulan.

Saya ganti kegiatan saya yang harusnya bisa dipakai untuk bersantai dengan hal yang lebih bermanfaat. Karena mindset saya sebenarnya kesenangan itu akan terakumulasi. Kalau kita bersenang-senang sekarang, suatu saat nanti kita pasti akan merasa bersusah susah. Tapi kalau bersusah-susah sekarang, maka kesenangannya nanti akan menumpuk dibelakang seperti menanam benih. Dan mumpung saya masih muda, saya ingin bekerja keras dulu di usia yang muda, seperti Top dan Merry tadi. Mereka berdua rata-rata menggunakan waktu sehari untuk bekerja selama 18 jam.

Kebetulan saya gemar di bidang komputer, musik dan sastra. Maka saya mulai pontensikan kegemaran saya itu untuk menghasilkan karya yang bermanfaat. Saya mencoba menulis buku, saya mengarang lagu dan mencoba mengaransemen, saya mengikuti lomba sastra online yang iming-iming hadiahnya besar, lomba bikin puisi, lomba nulis cerpen, saya juga kadang ikut lomba kompetisi blog. Itulah hal-hal yang saya lakukan untuk mengisi waktu luang saya.

Ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Allah amat membenci orang yang terlalu banyak makan dan terlalu banyak tidur. Dengan kata lain berarti yang sedikit makan dan sedikit tidur akan lebih disayang. Dan kalau disayang maka akan lebih sering diberi pertolongan.

Itulah alasan yang sangat kuat mengapa saya setiap makan hampir tidak pernah lauk daging. Lebih seringnya pakai lauk gorengan. Total pengeluaran makan saya sehari maksimal Rp 20.000, namun faktanya lebih sering dibawah besaran tersebut.

Makan tanpa lauk daging, apa bisa kenyang? Tidak. Tapi justru Nabi menyarankan kita agar berhenti makan sebelum kenyang.

Bukankah makan daging itu menyehatkan? Iya sehat sekarang, tapi terakumulasi sakitnya besok di usia tua. Lebih menyehatkan daun-daunan dan sayur. Ayah saya sejak kecil jarang sekali makan daging, tapi sampai usia sekarang beliau tidak pernah sakit yang aneh-aneh. Jika ada dua pilihan lauk: daging dan sayur, dan hanya boleh memilih salah satu, maka ayah akan memilih sayur. Saya lebih percaya kepada kata-kata ucapan ayah daripada kata-kata dari iklan daging olahan yang bentuknya lonjong.

Banyak yang bilang kalau nanti gajinya sudah banyak apa mungkin makan sesederhana itu? Saya jawab menjadi kaya itu tidak dilarang, tapi pola hidup harus tetap sederhana.

Nabi Muhammad SAW sungguh kaya raya bukan main. Bayangkan saja penduduk di zaman nabi itu hampir seluruhnya bahagia, padahal salah satu indikator kebahagiaan adalah tercukupinya kebutuhan. Dan untuk memenuhi kebutuhan itu perlu uang. Tidak salah lagi bahwa harta Rasulullah itulah yang selalu dibagi-bagikan kepada umatnya, hingga Beliau sendiri tidur hanya dengan pelepah kurma.

Ada sebuah kejadian di mana Nabi sedang menjadi imam sholat. Ketika selesai salam, Beliau terburu-buru pulang ke Rumah, tidak seperti biasanya Beliau yang selalu berdzikir panjang terlebih dahulu. Para sahabat pun keheranan.

Beberapa saat kemudian, Rasul kembali datang ke masjid untuk melanjutkan dzikirnya.

Setelah selesai, sahabatnya pun bertanya karena penasaran, apa yang menyebabkan Rasul tadi terburu-buru pulang?

Kemudian Rasul menjawab, bahwa setelah salam tadi mendadak beliau teringat bahwa di bawah alas tidurnya masih tersimpan beberapa dirham uang. Dan beliau sangat takut akan ditanya Allah mengapa Engkau masih menyimpan uang, sedangkan di luar sana banyak umatmu yang lapar. Maka beliau segera pulang mengambil uang tadi dan memberikan kepada badan, lalu kembali ke masjid lagi untuk menuntaskan dzikir. Di sini, sungguh tampak pola kesederhanaan hidup dan semangat berbagi dari beliau yang seharusnya ditiru oleh umat manusia yang kepingin sukses dunia akhirat.

Setiap hari Senin dan Kamis, saya juga upayakan untuk berpuasa. Selain untuk masalah hemat, juga karena masalah pahala.

Itulah beberapa kebiasaan yang bisa saya share.

Sedekah ditambah baca ayat seribu dinar ditambah rutin sholat duha ditambah puasa Senin Kamis ditambah memanfaatkan waktu adalah uang.

Sekali lagi, sedekah itu dapat memperkaya harta dan benar begitulah adanya! Setelah saya sedekahkan Rp. 100.000 tadi, ada-ada saja rezeki yang datang bergantian. Bergantian seperti  untuk datang kepada saya, itu yang saya rasakan. Mulai dari dapat makan siang gratis di kantor, bahkan teman saya sampai ada yang bilang kalau sekelompok kantor dengan saya itu enak, sering dapet makan siang gratis. Saya juga bingung. Ada juga honor yang mendadak cair, honor diklat, uang perjalanan dinas, dan lain-lain.

Memang, seperti terjemahan di ayat seribu dinar yang rutin saya baca, rezeki dan pertolongan Allah itu datangnya dari arah-arah yang tidak diduga. Termasuk ide-ide yang muncul di kepala ini pun juga merupakan bentuk dari rezeki Allah yang tak terduga.

Ada sebuah kisah Muhammad Al Fatih dalam menaklukan Konstantiopel, sebuah kota besar yang sudah selama 700 tahun lebih mencoba ditaklukkan oleh pasukan muslim tapi selalu berujung di kegagalan karena pertahanan kota yang luar biasa tangguhnya. Muhammad Al Fatih inilah satu-satunya yang akhirnya berhasil, bagaimana caranya? Percaya atau tidak, pasukan Al Fatih ini menumbangkan Konstantinopel dengan cara membawa kapal-kapal perang mereka berlayar bukan di atas ombak, tapi di atas gunung! Alias membawa kapal-kapalnya naik ke atas gunung untuk menyerbu Konstantinopel, karena hanya pada sisi gunung-gunung itulah pertahanan kota itu lemah.

Bukan masalah mendorong kapalnya yang luar biasa di sini. Tapi bagaimana Al Fatih bisa untuk mendapatkan ide untuk menyerang Konstantinopel dari arah gunung itulah sebuah rezeki dan rahmat dari Allah yang luar biasa. Kuncinya adalah, beliau selalu memperingatkan kepada pasukannya jangan sampai ada yang bermaksiat satu pun, karena maksiat dapat menghalangi rahmat Allah, dan beliau mengerahkan pasukannya untuk berpuasa.

Maka dari itu, kadang-kadang saya pun sering mendapat ide-ide yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Misalnya, membuka jasa edit foto. Itu ide yang menurut saya sangat konyol. Jadi ceritanya secara mendadak instansi saya meminta pas foto dengan memakai jas. Otomatis banyak anak yang tidak mungkin punya jas, apalagi untuk beli pasti mahal dengan gaji yang hanya segitu. Kalau mau foto studio pun mahal ongkosnya bisa sampai Rp 20.000. Ya saya buka jasa edit foto saja, saya pasangin jas di fotonya yang lama. Saya pasang tarif 5 ribu-10 ribu perfoto.

Memang harus ada pengorbanannya, sempat saking banyaknya orderan dan deadline saya tiap hari tidur jam 11 dan bangun jam 4. Dan selama bangun itu langsung ngedit foto lagi.

Lalu...........

Apakah dengan pola hidup seperti ini hidup saya jadi monoton dan tak ada kebahagiaan sama sekali seperti manusia normal? JELAS TIDAK.

Saya juga bermain dengan teman-teman untuk melepas penat. Saya juga masih bisa karaokean. Saya juga masih bisa makan di restoran bareng-bareng. Saya juga bisa beli pakaian dan seragam baru.

Setiap pulang kampung ke Semarang, saya justru tidak pernah naik kereta ekonomi, minimal bisnis, seringnya malah eksekutif yang harganya Rp. 300.000 karena lebih cepat sampai lebih banyak waktu bertemu orang tua. Karena orang tua adalah segalanya. Saya yakin, kesuksesan saat ini tidak akan diperoleh tanpa doa orang tua. Bisa pulang ke rumah untuk sekedar nyapu ngepel dan bantuin orang tua nyuci baju di rumah nilainya lebih baik daripada apa pun yang saya dapatkan saat ini di Jakarta.

Saya malah kadang nyuci pakaian di laundry karena terlalu capek, padahal itu bayar.

Saya masih bisa beli speaker Logitech yang high quality dan DVD writer merek Samsung yang harganya selangit. Padahal saya awalnya cuma melongo melihat harga kedua barang ini yang selangit dengan status gaji Rp 850.000. Beberapa minggu kemudian kok malah bisa beli dua-duanya.

Dan masih banyak lagi.

Namun kebahagiaan yang paling besar adalah, saya memperoleh itu semua tanpa meminta uang dari orang tua. Sungguh ini merupakan pengalaman dan perjuangan yang tak terlupakan.

Saya tidak bermaksud untuk pamer. Saya hanya ingin menunjukkan bukti kebesaran Allah bahwa apa saja yang dijanjikan oleh-Nya itu benar adanya, jika kita yakin dan menurut. Jika Allah meminta kita sedekah, bersedakahlah. Jika disuruh puasa, berpuasalah. Logikanya, Allah nyuruh gitu pasti Dia juga menjamin ada kesuksesan di balik itu. Kebanyakan kita itu tak menurut, makanya hidupnya terkesan berat.

Bukti bahwa sedekah dapat melipatgandakan harta itu benar sekali. Bahkan saya sendiri saat ini masih bingung kok bisa sebegitu hebatnya yang saya peroleh ini.

Sampai saat ini, saya selalu menyisihkan 10% dari Rp 850.000 untuk disedekahkan. Entah bagaimana pun caranya pokoknya minimal Rp. 80.000 harus habis disedekahkan dalam sebulan.

Pernah suatu ketika, sata benar-benar sedang ludes. Dompet saya isinya hanya 2 lembar yaitu selembar Rp 10.000, dan selembar Rp 5.000. Saat itu hari Jumat, pasti ada kotak infaq yang dikelilingkan saat sholat Jumat. Berhubung sudah menjadi habit, rasanya tidak enak kalau tidak memasukkan uang ke dalamnya. Kalau saya masukkan Rp 10.000, berarti saya hanya punya Rp 5.000 saja. Naik busway Rp 3.500, hanya sisa Rp 1.500 di dalam dompet, apa bisa pergi hanya bawa uang segitu? Tapi kalau saya beri Rp 5.000 berarti saya meremehkan sedekah, sebab yang dipilih kok malah justru uang yang nilainya rendah. Daripada pusing, langsung saja saya masukan Rp 10.000.

Setelah sholat Jumat, saya dipanggil kepala seksi kantor, diminta untuk ke Kantor Pusat buat ngurus proyek pembuatan website kantor. Lalu dibuatkan Surat Perjalanan Dinas (SPD). Akhirnya saya ke Kantor Pusat sekalian pulang naik taksi yang dibayarin. Habis dari kantor pusat, saya diajak mampir ke restoran, ditraktir! Berapa uang yang habis? Lebih dari Rp. 10.000! Plus besoknya dapat uang perjalanan dinas Rp. 100.000.

Keajaiban sedekah lainnya, saya mendadak dapat telpon dari rumah, rupanya cerpen saya yang saya ikutkan di kompetisi online masuk di juara favorit. Dapat sertifikat dan hadiah yang lumayan nilainya.

Tidak berhenti sampai di sini, sekarang pun saya sedang diminta membuat website untuk KPPN Jakarta 7. Mangapa saya yang diminta? Padahal yang lain juga bisa. Mungkin jawabannya ya karena sedekah dan amalan-amalan tadi. Padahal kata kepala kantornya, jangan kuatir nanti dibayar kok. Benar kan, datang rezeki lagi dari arah yang tidak disangka-sangka.

Maka apakah kita ini sudah pandai matematika? Apakah nilai matematika kita di ujian nasional dulu nilainya 100? Ternyata Allah jauh lebih pintar matematika!

Jangan percaya dengan mata kita, sebab mata hanya bisa melihat apa yang bisa dilihat. Jangan percaya logika kita. Tapi percayalah kepada logika Allah. Bagaimana caranya? Allah memberi sebuah tools mahadahsyat untuk memahami logika Allah. Alat itu adalah hati. Gunakan hati sebaik-baiknya, jangan dikotori, jangan dinodai, maka dia akan lebih mudah untuk digunakan.
(seperti yang diceritakan Dinar R.)


Posted by nahya tinata
source: http://www.memobee.com/kisah-nyata-inpiratif-begini-cara-hidup-berkecukupan-di-jakarta-dengan-gaji-rp-850-000-per-bulan-4651-myreview.html

Jumat, 26 Februari 2016

Disruptive Era

Apa itu disruptive era? Disruptive era adalah masa dimana penuh gangguan dengan banyaknya perubahan. Bisnis penerbitan terganggu dengan adanya desktop publishing. Industri kamera film terganggu dengan adanya inovasi kamera digital. Bisnis tradisional terganggu dengan pemanfaatan kemudahan online.

Ada yang “terganggu” kemudian musnah. Ada pula yang terganggu namun ia berbenah dan pada akhirnya ia tetap eksis. Di dalam era yang disruptif ini, sebagai manusia kita pun perlu berbenah agar tidak “musnah” atau kalah dalam persaingan yang berakibat kepada kehidupan yang semakin susah.

Menurut saya, ada tiga hal yang perlu kita lakukan. Pertama, jadilah solutif. Apa artinya? Setiap ada permasalahan yang ada di pekerjaan atau bisnis yang kita tekuni jadilah salah seorang yang ikut memberikan solusi atas pemasalahan yang dihadapi. Jangan jadi “tukang kompor” yang memanas-manasi keadaan sehingga permasalahan justru menjadi ruwet hingga sulit dituntaskan. Manusia yang solutif dicari dan sangat dibutuhkan di era distruptif ini.

Kedua, bersinergi. Sehebat dan secerdas apapun Anda bila egois dan enggan bersinergi maka akan “mati” di era ini. Bangunlah kerjasama, saling mendukung, saling menguatkan dengan banyak pihak. Win-win solution tidak boleh hanya menjadi jargon tetapi perlu mendarah daging dan mengkristal dalam kehidupan Anda.

Ketiga, tingkatkan spiritualitas. Era yang penuh gangguan ini membuat kita mudah stress, galau, dan gelisah. Segera tingkatkan kedekatan Anda dengan Sang Maha. Banyak berdoa, mendekat dan mengingat-Nya. Dia lah yang menciptakan kita maka Dia lah yang tahu berbagai solusi dari semua permasalahan yang kita hadapai. Dia lah penguasa pikiran dan hati kita maka meminta bantuan kepada-Nya adalah kebiasaan harian yang perlu kita lakukan.

Menghadapi era disruptif, ingatlah selalu tiga S: Solutif, sinergi, spiritual. Melupakan tiga S ini membuat Anda dilupakan banyak orang. Mau?

Salam SuksesMulia!
Jamil Azzainini
@jamilazzaini

Minggu, 31 Januari 2016

Quranic Law Of Attraction

Penulis             : Rusdin S. Rauf

Penerbit           :Hikmah (PT Mizan Publika)

Cetakan           : I / Maret 2008

Tebal               : xiii + 251 halaman

 

Didalam pengantarnya, penerbit Mizan menyampaikan bahwa Law of attraction menumbuhkan kedahsyatan pikiran sadar maupun bawah sadar. Pengalaman seseorang dinyatakan merujuk pada apa yang dipikirkan, jika pikiran kita positif maka pengalaman positif yang akan mencuat demikian sebaliknya. Law of Attraction ini mulai popular diawali dengan bukunya Rhonde Byrne yaitu The Secret th 2006 dan Michael J Losier dalam The Law of Attraction di th 2007. Namun disebutkan bahwa hal ini bukan gagasan baru karena di kitab Taurat, Injil bahkan Hinduisme disinyalir telah menyinggungnya. Untuk itu penulis kelahiran Luwuk yang termasuk produktif di usianya yang masih muda  ini dengan gamblang mengutip banyak ayat untuk membuktikan bahwa Law of Attraction juga sudah ada didalam kita suci Al Quran.

Buku ini mengupas tentang adakah Law of attraction di dalam Al-Quran, sungguh menarik si pengarang Rusdin S Rauf mengulasnya mulai dari menjelaskan apa itu The Law of Atraction dimana di definisikan sebagai “segala sesuatu yang kita pikirikan dengan segenap perhatian, energi dan konsentrasi pikiran, baik hal yang positif maupun negative akan datang ke dalam kehidupan kita”. Buku ini terdiri dari 5 bab dimana pada bab awal menjelaskan apa itu The Law of Attraction dan ayat-ayat di Al Quran yang memperkuat adanya hal ini, selanjutnya di bab selanjutnya di kupas hal-hal apa saja di seputar kehidupan kita yang dipengaruhi oleh kedekatan dan pemahaman kita aka isi dari Al Quran.

Hukum ketertarikan (law of attraction) akan memberikan respond apapun yang kita pancarkan dengan mendatangkan getaran dalam bentuk pikiran dan perasaan dimana getaran ini bisa positif maupun negative sehingga saat kita memikirkan sesuatu maka pada saat itulah kita menarik sesuatu itu kearah diri kita, jadi jika kita memikirkan apa-apa yang kita inginkan atau suka maka hidup kita akan akan dipenuhi oleh hal-hal yang kita suka demikian juga sebaliknya, sehingga kita perlu berhati-hati didalam memikirkan kehidupan kita.

Salah satu ayat yang dengan gamblang memaparkan bahwa hukum ketertarikan telah ada sejak Al Quran diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah QS Az Zalzalah [99]: 7-8, “ Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya”. Dimana secara ringkasnya dapat dikatakan adalah kebaikan akan berbalas kebaikan dan keburukan akan berbalan keburukan. Beberapa ayat lainnya juga menjadi rujukannya yaitu Al Mu’minun [23]:96 ; QS Al Mulk [67]:15 ; QS Al Qashash [28]:77.

Didalam buku ini juga dibahas bagaimana kekuatan Al Quran sangat penting untuk dapat disuntikkan kedalam nurani kehidupan dengan menyuntikan kekuatan Al Quran kedalam jiwa kita maka kita akan dapat menjalani kehidupan ini sesuai dengan hukum ketertarikan, karena hukum ketertarikan akan tunduk dengan hukum-hukum Allah karena Allah lah yang mengatur segala hukum ketertarikan di alam semesta ini, hal ini seperti yang disebutkan di QS Az Zumar [39]:5.

Rumus Kesuksesan dan Kebahagian menurut sudut pandang Al Quran adalah manakala kita memasukkan iman dalam diri kita, dan berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari (ihsan) maka merekalah yang akan mendapatkan jaminan keberuntungan (sukses dan bahagia) bukan saja di dunia tetapi ia juga mendapatkan jaminan di surga. Kemudian apa hubungannya antara keberimanan dengan hukum ketertarikan, dari hadits nabi yang sahih dikatakan bahwa iman itu harus diyakini benar-benar dalam hati, diucapkan dengan lesan dengan sesadar-sadarnya dan diwujudkan dengan tindakan yang nyata, dari sini sangat jelas bahwa sebelum melakukan sesuatu kita harus mempunyai keyakinan atas kebenaran yg kita lakukan, keyakinan dalam hati adalah kunci dari hukum ketertarikan (jadi kalau doa kita belum terkabul, benarkah apa yg kita minta di doa kita sudah sesuai dengan apa yang kita yakini di hatinurani kita)

Sesuai dengan hukum energi yg berbunyi energi tidak dapat dimusnahkan ia hanya akan berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya. Begitu pula dengan AL Quran, ia pun mempunyai energi yaitu ada 3 pusat energi yang terdapat didalam Al Quran yaitu Energi doa, energi syukur dan senergi sabar. Dimana bila kita menekuni nilai-nilai energinya sesungguhnya kita sedang melakukan trsnformasi energi yaitu energi abstrak menjadi energi konkrit, dimana hal ini dapat dijelaskan bahwa energi yang terkandung didalam Al quran akan menjadi konkrit manakala kita mewujudkannya dalam kehidupan keseharian (melalui doa, syukur dan sabar), mereka yang tidak menekuni atau mengaplikasikan ajaran-ajaran Alquran tidaklah akan mampu melakukan transformasi energi itu, mereka hanya bisa membaca saja namun tidak mengamalkannya sehingga transformasi energi tidak akan terjadi.

Pengertian ketiganya dibahas dengan tuntas di buku ini seperti mengapa doa kita tidak terkabul adakah kesalahan kita didalam berdoa, kita dipandu untuk lebih menajamkan doa kita. Selain itu juga bagaimana melakukan syukur yang benar yaitu dengan mengenal nikmat nikmat Allah lebih dahulu maka kita akan lebih mudah beryukur dan terakhir adalah sabar yaitu bertahan dalam mengerjakan perintah Allah dan menahan diri dari amal yang dilarang Allah, sabar bukanlah sikap pasrah melainkan sikap menahan diri

Kolaborasi antara doa, syukur dan sabar adalah sangat penting bak secangkir kopi tanpa gula demikian dikatakannya, karena ketiga satu sama lain sangat saling berhubungan. Didalam aplikasinya dikatakan bahwa pertama-tama kita harus mengenali apa yang sebenarnya kita inginkan didalam hidup ini (apa visi kita kedepan) dengan telah adanya visi maka berdoalah agar Allah dapat menyambutnya, berikutnya tanamkan kuat-kuat tujuan doa anda dengan menjauhi keraguan-keraguan atas ketidakyakinan kita akan apa yang akan kita tuju, berikutnya syukur perlu dihidupkan agar rasa syukur ini dapat lebih banyak merengkuh getaran posituf . Selanjutnya adalah yakinlah, rasakanlah dan rengkuhlah demikian dikatakan oleh penulis untuk menguatkan apa yg kita inginkan. Dan terkahir kita gunakan energi sabar untuk bangkit dari kegagalan, dengan membiasakan bersabar maka kita akan bangkit membenahi diri menuju tujuan-tujuan dan keinginan kita dimana disitulah letak kesuksesan kita.

Selanjutnya di buku ini diceritakan kisah-kisah nyata yang merupakan wujud Alquran merespond keinginan-keinginan kita, dijelaskan secara nyata dan jelas apa yg terjadi. Dan selanjutnya kita akan dapat bimbingan bagaimana kita merespond Alquran yaitu dengan analogi yg sederhana tanpa adanya password atau infrastructure yang baik maka mustahil kita bisa melakukan koneksi laptop kita dengan jaringan. Demikian juga dengan Alquran dimana harus ada media atau infrastructure yang menghubungkannya dengan kita, maka bangun media atau infrastructure tersebut dengan secara rutin membiasakan kita untuk membaca Alquran dan pastikan kita memaknai ayat ayatnya (tidak hanya membaca saja) dengan demikian kita akan dapat melakukan transformasi energi dengan baik dan mengawali hari-hari dan pikiran serta perasaan kita dengan energi positif. Temukan ayat-ayat yang dapat digunakan sebagai doa, dan dengan focus terhadap nilai-nilai Alquran dengan perasaan dan pikiran anda yang pada dasarnya kita dapat mengirim getaran positif kealam sekitar dan pada gilirannya alam sekeliling akan merespond balik getaran tersebut.

Dengan memahami begitu kuatnya getaran energi positif yang dipancarkan oleh Alquran maka wujud dan hasilnya sangat tergantung dari usaha kita agar transformasi energi ini dapat berjalan dengan baik dan getaran positif disekeliling kita tertarik untuk mendekati kita dan berubah bentuk dengan wujud yang nyata untuk mewujudkan tujuan dan keinginan kita.

 

 

(Toto 0908)

No virus found in this message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 2016.0.7357 / Virus Database: 4522/11529 - Release Date: 01/31/16

Jumat, 27 November 2015

BUNGKUS atau ISI

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila Anda hanya menguras pikiran untuk mengurus bungkusnya saja dan mengabaikan ISI-nya.
Maka, bedakanlah apa itu "BUNGKUS"-nya dan apa itu "ISI"-nya.

"Rumah yang indah" hanya bungkusnya,
"Keluarga bahagia" itu isinya.

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya,
"Cinta kasih, Pengertian, dan Tanggung jawab" itu isinya.

"Ranjang mewah" hanya bungkusnya,
"Tidur nyenyak" itu isinya.

"Kekayaan" itu hanya bungkusnya,
"Hati yang gembira" itu isinya.

"Makan enak" hanya bungkusnya,
"Gizi, energi, dan sehat" itu isinya.

"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkusnya;
"Kepribadian dan Hati" itu isinya.

"Bicara" itu hanya bungkusnya,
"Kenyataan" itu isinya.

"Buku" hanya bungkusnya;
"Pengetahuan" itu isinya.

"Jabatan" hanya bungkusnya,
"Pengabdian dan pelayanan" itu isinya.

"Pergi ke tempat ibadah" itu bungkusnya,
"Melakukan Ajaran Agama" itu isinya.

"Kharisma" hanya bungkusnya,
"Karakter" itu isinya.

Utamakanlah isinya, namun rawatlah bungkusnya.

Selasa, 03 November 2015

LEAN OPERATION

Lean operation is a business performance improvement tool that focuses on enhancing quality, cost, delivery, and people.

It helps identify waste and makes continuous improvement possible by identifying and eliminating non-value-adding activities in design, production, supply chain, services and management.

Striving to improve competitiveness by providing customers faster and better products or services, which will accomplish more than worrying about the next global crisis, is the basic aim behind lean operation. The only game we need to be adept at today is the one that removes waste so the customer sees more value and we got efficiency.

In the world of lean practices, companies try to produce only what has been demanded by the customer, and only when the product is required. To optimize benefits of lean throughout the supply chain, it is essential to build a partnership with your suppliers. This partnership must work on the basic principle that you pull only what you consume, and nothing more.

Your suppliers restore what you have consumed. In this way, inventories are maintained at their smallest for both dealer and customer.

Achieving this level of trust with your supplier will require frequent communication and extensive sharing of information. Successful partnerships result from inviting each other to strategic planning sessions, attending each other's events and participating in other joint activities.

One good approach is to weave principles, objectives, tools, and methodology behind lean operation into the strategic and business plans of your organization, in order to make lean practices more suitable for your company.